Bangun Infrastruktur SMI Alirkan Pembiayaan Rp275 Triliun Selama 17 Tahun – PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI mencatatkan pencapaian signifikan dalam perjalanan 17 tahun kiprahnya. Komisaris dan Direksi BUMN ini mengumumkan bahwa perseroan telah mengalirkan komitmen pembiayaan sebesar Rp275 triliun sejak berdiri pada 26 Februari 2009 .
Baca Juga: Dibanderol Rp15.700 Sejak 2024, Mendag Usulkan Harga Minyakita Naik
Akumulasi Nilai Proyek Capai Rp1.183 Triliun
Direktur Utama SMI Reynaldi Hermansjah mengungkapkan bahwa total nilai proyek yang didukung pembiayaan tersebut mencapai Rp1.183 triliun . Angka ini mencerminkan peran strategis SMI sebagai motor penggerak pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia.
Oleh karena itu, pembiayaan yang disalurkan tidak hanya memberikan suntikan dana. Dampak ekonominya pun sangat luas dan terukur.
Dampak terhadap Penyerapan Tenaga Kerja dan PDB
Dari sisi sosial, pembiayaan SMI berdampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja. Reynaldi menjelaskan bahwa dukungan perseroan memberikan kontribusi terhadap penyerapan 10,9 juta tenaga kerja .
Selain itu, pembiayaan infrastruktur oleh SMI juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Nilainya mencapai 0,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia .
Sebaran Pembiayaan di Seluruh Indonesia
Reynaldi menambahkan bahwa investasi infrastruktur berkualitas memegang peranan krusial. Fungsinya untuk mengurangi ketimpangan antarwilayah sekaligus meningkatkan efisiensi ekonomi .
Distribusi dampak ekonomi dari pembiayaan SMI tersebar merata di berbagai pulau. Berikut rinciannya:
-
Jawa: 29 persen terhadap PDRB per kapita
-
Sumatera: 21,9 persen
-
Kalimantan: 20,2 persen
-
Maluku dan Papua: 16 persen
-
Sulawesi: 7,4 persen
-
Bali dan Nusa Tenggara: 5,5 persen
Data ini menunjukkan komitmen SMI dalam mendukung pemerataan pembangunan hingga ke wilayah timur Indonesia.
Fokus pada Proyek Berdampak Ekonomi Tinggi
Direktur Pembiayaan Publik dan Pengembangan Proyek SMI, Faaris Pranawa, mengungkapkan strategi perusahaan dalam menyalurkan dana. Sebagian besar usulan proyek berfokus pada pembangunan infrastruktur dasar daerah. Prioritasnya meliputi jalan, rumah sakit, pasar, hingga irigasi .
SMI juga memberikan pendampingan intensif atau holding hands kepada pemerintah daerah. Banyak Pemda yang memerlukan bantuan dalam aspek perencanaan proyek. Oleh karena itu, SMI membantu melakukan kajian untuk merekomendasikan proyek dengan dampak ekonomi paling besar .
Komitmen pada Pembiayaan Hijau
Di sektor energi, SMI terus mendorong proyek Energi Baru Terbarukan (EBT). Perseroan bahkan berani mendanai proyek eksplorasi panas bumi (geotermal) yang memiliki risiko tinggi .
Hingga akhir 2025, portofolio pembiayaan hijau SMI mencapai Rp36,5 triliun. Angka ini mencerminkan komitmen perseroan dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon .
Tantangan Masa Depan
Meski telah mencapai banyak, SMI menyadari tantangan ke depan tidak ringan. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, kebutuhan investasi infrastruktur diperkirakan mencapai US$625 miliar .
Namun, kapasitas APBN hanya mampu meng-cover sekitar 40 persen dari total kebutuhan. Hal ini menyisakan gap pendanaan yang lebar. Dengan demikian, peran SMI sebagai lembaga pembiayaan pembangunan menjadi semakin strategis untuk menjembatani kesenjangan tersebut .