BI Bongkar Biang Kerok Rupiah Ambruk ke Rp17.300 per Dolar AS

BI Bongkar Biang Kerok Rupiah Ambruk ke Rp17.300 per Dolar AS – Bank Indonesia (BI) membeberkan penyebab nilai tukar rupiah yang sempat tertekan hingga level terendah sepanjang sejarah. Mata uang Garuda menembus Rp17.300 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (23/4/2026) pagi .

Tiga Biang Kerok Utama Pelemahan Rupiah

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkap tiga faktor utama yang menekan rupiah. Pertama, meningkatnya ketidakpastian global yang juga mempengaruhi mata uang di kawasan Asia .

Kedua, berlanjutnya dampak konflik di Timur Tengah. Kondisi ini memperbesar tekanan di pasar keuangan global. Konflik tersebut juga mendorong penguatan dolar AS secara signifikan .

Ketiga, tingginya permintaan dolar di dalam negeri akibat periode musiman pembayaran dividen. Kepala Ekonom BCA David Sumual menjelaskan faktor ini menambah tekanan pada rupiah di tengah kondisi global yang sudah tidak stabil .

Pergerakan Rupiah Masih Sejalan dengan Kawasan

Destry menegaskan pelemahan rupiah masih sejalan dengan tren mata uang regional lainnya. Secara year to date, rupiah tercatat melemah 3,54 persen sejak awal tahun .

Gubernur BI Perry Warjiyo justru menilai rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued. Fundamental rupiah seharusnya bergerak lebih kuat berkat kinerja ekonomi domestik yang solid .

Langkah BI: Intervensi Masif di Tiga Pasar

BI merespons tekanan ini dengan meningkatkan intensitas intervensi. Bank sentral melakukan stabilisasi di tiga pasar sekaligus :

  1. Pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF)

  2. Pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)

  3. Pasar surat utang dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder

BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-pasar. Langkah ini menjaga daya tarik aset domestik di tengah gejolak global .

Cadangan Devisa Masih Kuat

Di tengah tekanan yang terjadi, BI memastikan posisi cadangan devisa Indonesia tetap aman. Per akhir Maret 2026, cadangan devisa berada di level US$148,2 miliar .

Meski turun sekitar US$3,7 miliar dari bulan sebelumnya, jumlah ini masih cukup untuk mendukung upaya stabilisasi rupiah. Penurunan cadangan devisa disebabkan kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar .

Rupiah Sempat Tembus Level Psikologis Baru

Data Refinitiv mencatat rupiah melemah 0,79 persen ke level Rp17.305 per dolar AS. Level ini sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa secara intraday. Pelemahan tersebut menandai rupiah telah menembus level psikologis baru di Rp17.300 .

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah berpotensi mencapai Rp17.400 pada akhir April 2026. Proyeksi yang sebenarnya merupakan target sepanjang tahun ini ternyata sudah tercapai di bulan keempat .

Komitmen BI Menjaga Stabilitas

Destry menegaskan BI akan terus hadir di pasar. Bank sentral mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah .

Dengan cadangan devisa yang masih kuat dan intervensi yang masif, BI optimistis dapat meredam volatilitas rupiah ke depan. Namun tekanan dari faktor eksternal seperti konflik geopolitik dan penguatan dolar AS tetap menjadi tantangan utama yang harus dicermati

Tinggalkan komentar