Ekonomi Iran Terpuruk Imbas Perang, Butuh Lebih dari Satu Dekade untuk Pulih

Ekonomi Iran Terpuruk Imbas Perang, Butuh Lebih dari Satu Dekade untuk Pulih – Teheran – Konflik militer dengan Amerika Serikat dan Israel telah melumpuhkan perekonomian Iran. Pejabat senior ekonomi Iran memperingatkan bahwa negara itu mungkin membutuhkan waktu lebih dari satu dasawarsa untuk membangun kembali ekonomi mereka yang hancur akibat perang .

Baca Juga: Jangan Lupa Serbu Transmart Full Day Sale Hari Ini! Diskon Melimpah 50% + 20%

Hantamannya Perang terhadap Fundamental Ekonomi

Data terbaru menunjukkan betapa parahnya kondisi ekonomi Iran.

Kontraksi Ekonomi Parah: Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Iran akan kontraksi sebesar 6,1% pada tahun 2026, revisi tajam dari perkiraan sebelumnya. Proyeksi ini menempatkan Iran sebagai negara dengan kinerja terburuk di kawasan .

Hiperinflasi Tak Terkendali: Inflasi diprediksi akan melonjak hingga 68,9% di tahun 2026, meningkat drastis dari 50,9% di tahun sebelumnya. Bahkan, inflasi bahan pangan tertentu seperti roti dan sereal telah mencapai level ekstrem 140% secara tahunan .

Runtuhnya Mata Uang: Mata uang Rial telah jatuh bebas ke level sekitar 1,32 juta Rial per Dolar AS, sebuah rekor terendah sepanjang masa. Nilai tergusurnya mata uang ini telah memicu krisis daya beli yang massif bagi masyarakat .

Hilangnya “Nadi” Perekonomian: Blokade Selat Hormuz

Faktor paling dominan yang menyebabkan keruntuhan ini adalah blokade Selat Hormuz. Sekitar 90% perdagangan internasional Iran mengalir melalui jalur vital ini .

Penutupan jalur ini mengakibatkan:

Hilangnya Pendapatan Migas: Sebagai sumber 80% pendapatan ekspor pemerintah, penghentian ekspor minyak menyebabkan kerugian ekonomi harian mencapai US$435 juta atau sekitar Rp6,5 triliun per hari .

Ancaman “Water Coning”: Dengan terisinya kapasitas penyimpanan minyak darat, Iran terpaksa menghentikan produksi di sumur-sumur tua. Hal ini memicu fenomena water coning yang merusak reservoir dan menyebabkan hilangnya kapasitas produksi permanen hingga 500.000 barel per hari .

Kerusakan Fisik Masif dan Masa Depan yang Suram

Selain blokade, serangan udara yang berlangsung selama lima minggu juga meratakan infrastruktur penting. Lebih dari 17.000 target dihantam, termasuk pabrik petrokimia (penyumbang 50% ekspor non-migas), jalur kereta api, jalan raya, dan fasilitas energi . Total kerusakan infrastruktur diperkirakan mencapai US$ 270 miliar .

Para analis meyakini bahwa bahkan dengan gencatan senjata sekalipun, pemulihan ekonomi akan sangat panjang.
>Menurut Mohammad Farzanegan, profesor ekonomi Timur Tengah di Philipps-Universität Marburg, Jerman, “pemulihan skala besar membutuhkan akses terhadap keuangan internasional, teknologi, dan investasi,” sesuatu yang tidak dapat diperoleh jika sanksi tetap dipertahankan .

Dengan Devisa yang habis, infrastruktur luluh lantak, dan hampir semua mitra dagangnya

(seperti UEA serta China) menjauh karena tekanan sanksi AS, jalan menuju pemulihan bagi ekonomi Iran dipastikan akan panjang dan gelap .

Tinggalkan komentar