Rupiah Longsor ke Rp17.410 per Dolar AS Pagi Ini – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mencatatkan rekor terlemah sepanjang masa pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.410 per dolar AS, melemah 0,10 persen atau 17 poin dari posisi penutupan hari sebelumnya .
Baca Juga: Direktur BTN Hermita Sabet Penghargaan di Leading Women Awards 2026
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp17.380 hingga Rp17.445 per dolar AS. Pelemahan ini menjadi yang kelima secara beruntun dan sekaligus mencatat level penutupan terlemah dalam sejarah .
Penyebab Pelemahan Rupiah
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik .
Faktor Global
-
Harga minyak dunia yang tinggi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah
-
Suku bunga acuan AS yang meningkat dan memperkuat dolar
-
Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun hingga sekitar 4,47 persen
-
Pelarian modal (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama menguatnya dolar AS sebagai aset aman (safe haven) .
Faktor Musiman Domestik
Pada periode April-Mei-Juni, permintaan dolar AS di dalam negeri meningkat signifikan untuk :
-
Pembayaran repatriasi dividen korporasi
-
Pembayaran utang luar negeri
-
Kebutuhan jemaah haji
“April, Mei, Juni ini memang permintaan terhadap dollar-nya tinggi untuk pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, dan juga untuk jemaah haji,” jelas Perry Warjiyo .
Fundamental Ekonomi Masih Kuat
Meskipun rupiah tertekan, fundamental ekonomi Indonesia dianggap masih solid. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan, di atas ekspektasi pasar yang sebesar 5,40 persen .
Gubernur BI menegaskan bahwa kondisi fundamental seperti pertumbuhan tinggi, inflasi rendah (2,42% di April 2026), cadangan devisa yang kuat, serta kredit yang tumbuh tinggi seharusnya menjadi dasar rupiah stabil dan cenderung menguat. Karena itu, ia menyebut rupiah saat ini dalam kondisi undervalued (di bawah nilai wajar) .
Tujuh Jurus BI Perkuat Rupiah
Perry Warjiyo telah memaparkan tujuh strategi kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menstabilkan rupiah :
-
Intervensi masif di pasar valas, baik domestik maupun luar negeri, menggunakan cadangan devisa yang “lebih dari cukup”
-
Mendorong aliran modal asing masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)
-
Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, yang telah mencapai Rp123,1 triliun secara year to date
-
Menjaga likuiditas perbankan dengan pertumbuhan uang primer mencapai 14,1%
-
Memperketat pembelian dolar tanpa underlying; batas pembelian diturunkan dari US100.000menjadiUS100.000menjadiUS50.000 per bulan, dan akan kembali diturunkan menjadi US$25.000
-
Memperkuat intervensi di pasar offshore dan membuka ruang bagi bank domestik berpartisipasi
-
Meningkatkan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian valas tinggi
Dampak bagi Dunia Usaha
Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menyatakan bahwa pelemahan rupiah menjadi external shock yang langsung memengaruhi struktur biaya dan arus kas perusahaan. Sekitar 70 persen bahan baku manufaktur masih berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku sekitar 55 persen dalam struktur biaya produksi .
Sektor-sektor paling rentan meliputi petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi. Selain itu, perusahaan dengan kewajiban valas juga menghadapi peningkatan beban utang .
Subsidi Energi Membengkak
Pelemahan rupiah juga berdampak pada APBN. Realisasi subsidi dan kompensasi energi hingga Maret 2026 melonjak 266,5 persen menjadi Rp118,7 triliun, terdiri dari kompensasi Rp66,5 triliun dan subsidi Rp52,2 triliun .
Kementerian Keuangan menyebut fluktuasi ICP (Indonesian Crude Price), depresiasi nilai tukar rupiah, serta peningkatan volume konsumsi BBM dan LPG sebagai pemicu utama membengkaknya beban subsidi .
BI optimistis rupiah akan kembali stabil ke depan. “Ke depan kita yakini akan stabil dan menguat,” kata Perry Warjiyo usai melapor ke Presiden Prabowo .
