Harga Referensi Biji Kakao Naik 17,24 Persen Imbas Penutupan Selat Hormuz

Harga Referensi Biji Kakao Naik 17,24 Persen Imbas Penutupan Selat Hormuz – Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat lonjakan signifikan pada harga referensi (HR) biji kakao untuk periode Juni 2026. HR biji kakao ditetapkan sebesar USD3.832,17 per metrik ton (MT), naik USD563,48 atau 17,24 persen dibandingkan periode sebelumnya .

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61% di Kuartal I 2026, Tertinggi Sejak Kuartal III 2022

Kenaikan harga referensi ini berdampak langsung pada Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao yang menjadi USD3.511 per MT pada Juni 2026, meningkat USD549 atau 18,53 persen dari HPE Mei 2026 .

Penutupan Selat Hormuz Jadi Pemicu Utama

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menjelaskan bahwa lonjakan harga kakao ini terutama dipicu oleh gangguan logistik global akibat penutupan Selat Hormuz.

“Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar,” ujar Tommy dalam keterangan resmi, Jumat (29/5/2026) .

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dunia melalui laut. Penutupan jalur ini telah memicu:

  • Meningkatnya tarif pengiriman global

  • Melonjaknya premi asuransi kargo

  • Naiknya harga bahan bakar bunker 

Meskipun biji kakao sendiri tidak transit langsung melalui Selat Hormuz, gangguan pada jalur ini berdampak berantai pada seluruh rantai pasok komoditas global. Biaya distribusi yang meningkat pada akhirnya membebani harga perdagangan kakao di pasar internasional .

Pasokan Nigeria Berkurang, Pasar Makin Ketat

Selain faktor logistik, berkurangnya pasokan dari Nigeria turut memperketat ketersediaan kakao dunia. Nigeria merupakan salah satu produsen kakao utama global, sehingga penurunan produksinya berdampak signifikan terhadap pembentukan harga .

Nigeria’s Cocoa Association memproyeksikan produksi kakao Nigeria pada 2025/26 akan turun 11 persen secara tahunan menjadi 305.000 MT, dari proyeksi 344.000 MT pada tahun panen 2024/25 .

Kombinasi antara peningkatan biaya logistik dan berkurangnya pasokan dari produsen utama menciptakan tekanan ganda yang mendorong harga kakao melambung tinggi.

Kebijakan Pemerintah: Bea Keluar dan Pungutan Ekspor

Seiring dengan kenaikan harga referensi, pemerintah menetapkan bea keluar (BK) biji kakao periode Juni 2026 sebesar 7,5 persen. Besaran ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 38 Tahun 2024 juncto PMK Nomor 68 Tahun 2025 .

Selain itu, pemerintah juga mengenakan pungutan ekspor (PE) biji kakao sebesar 7,5 persen sesuai PMK Nomor 69 Tahun 2025 juncto PMK Nomor 9 Tahun 2026 .

Kebijakan ini merupakan bagian dari pengaturan perdagangan komoditas perkebunan dan tarif layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BLU BPDP) .

Potensi Dampak terhadap Industri Dalam Negeri

Kenaikan harga referensi kakao berpotensi membawa dampak berantai bagi industri dalam negeri, khususnya sektor makanan dan minuman yang menggunakan kakao sebagai bahan baku.

Bagi Petani Kakao Lokal:
Kenaikan harga referensi ekspor seharusnya menjadi kabar baik bagi petani kakao dalam negeri karena berpotensi meningkatkan pendapatan mereka. Namun, daya serap petani terhadap kenaikan harga ini sangat tergantung pada akses mereka ke rantai perdagangan ekspor.

Bagi Industri Pengolahan:
Produsen cokelat, biskuit, dan minuman berbasis kakao di dalam negeri diperkirakan akan merasakan tekanan biaya produksi. Beberapa produsen mungkin akan melakukan reformulasi produk, mengurangi kandungan kakao, atau menyesuaikan harga jual.

Bagi Konsumen:
Dalam jangka panjang, kenaikan harga bahan baku kakao berpotensi mendorong kenaikan harga produk cokelat dan makanan ringan berbasis kakao di pasaran. Fenomena serupa telah terjadi di Eropa, di mana European Cocoa Association melaporkan penurunan grinding (indikator permintaan) sebesar 8 persen pada kuartal I 2026 akibat tingginya harga .

Tinggalkan komentar

Exit mobile version