Nilai Ekonomi Kurban 2026 Melemah: Daya Beli Tertekan, Masyarakat Beralih ke Hewan Lebih Murah

Nilai Ekonomi Kurban 2026 Melemah: Daya Beli Tertekan, Masyarakat Beralih ke Hewan Lebih Murah – Jakarta – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H yang jatuh pada 27 Mei 2026 lalu, geliat ekonomi kurban di Indonesia menunjukkan tren yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di tengah semangat ibadah yang tetap tinggi, tekanan ekonomi domestik yang meliputi kenaikan harga pangan, biaya hidup, serta harga ternak, telah menyebabkan pelemahan nilai ekonomi kurban secara nasional .

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Singapura Sentuh 6% pada Kuartal I 2026, Tertinggi dalam Dua Tahun Terakhir

Menurut data yang dirilis oleh Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS), potensi ekonomi kurban nasional pada tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp26,89 triliun. Nilai ini memang masih sangat besar, namun mengalami penurunan dibandingkan capaian tahun 2025 yang sebesar Rp27,10 triliun .

Pelemahan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban serta perubahan preferensi masyarakat yang mulai menghindari hewan kurban berbobot besar karena harganya yang melambung tinggi .

Proyeksi Ekonomi Kurban Nasional 2026

IDEAS memproyeksikan bahwa setidaknya ada sekitar 1,90 juta rumah tangga di Indonesia yang masih mampu menunaikan ibadah kurban tahun ini. Dari jumlah tersebut, diperkirakan akan dipotong sekitar 1,59 juta ekor hewan kurban yang terdiri dari 493.180 ekor sapi dan 1,09 juta ekor kambing atau domba .

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah sapi kurban diperkirakan turun sekitar 10.170 ekor, sementara kambing atau domba turun sekitar 3.430 ekor. Penurunan ini berdampak pada berkurangnya potensi distribusi daging kurban yang turun sekitar 1.850 ton, menjadi 99.290 ton pada tahun ini .

Daya Beli Melemah di Berbagai Daerah

Fenomena pelemahan daya beli ini tidak hanya terjadi secara nasional, tetapi juga terlihat nyata di berbagai daerah. Pemerintah Kota Tasikmalaya mencatat penurunan daya beli masyarakat hingga 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Data menunjukkan stok sapi yang tersedia di kota tersebut turun drastis dari 3.310 ekor pada 2025 menjadi hanya 1.532 ekor pada 2026 .

Kondisi serupa juga terjadi di Kota Batu, Jawa Timur. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu, Hendry Suseno, mengakui bahwa jumlah titik penjualan serta jumlah ternak yang dijual tahun ini mengalami penurunan. “Itu dikarenakan kondisi ekonomi, sehingga berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat yang menurun,” ujarnya .

Di tingkat peternak, tekanan semakin nyata. Para peternak kambing di Lamongan mengeluhkan lesunya transaksi. Pengurus Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Lamongan, Sulistiono, menyebutkan bahwa hingga H-4 Iduladha, baru sekitar 60 persen dari 120 ekor kambing yang terjual. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, stok biasanya sudah habis .

Para pedagang di Pandeglang, Banten, juga merasakan hal serupa. Seorang pedagang musiman, Nawasi, mengaku rata-rata penjualan saat ini hanya mencapai satu hingga dua ekor domba per hari, jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya .

Pergeseran Pola ke Hewan Lebih Murah

Menghadapi tekanan ekonomi, masyarakat menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi. Alih-alih meninggalkan ibadah kurban, mereka justru mengalihkan pilihan ke hewan kurban dengan harga lebih terjangkau. Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, menjelaskan bahwa terlihat adanya peningkatan permintaan terhadap kambing atau domba dengan bobot sedang, seperti 40 kilogram dan 20 kilogram .

Fenomena ini juga terlihat di Kabupaten Banyumas, di mana Wakil Bupati Dwi Asih Lintarti mencatat adanya kenaikan harga hewan kurban sekitar Rp5.000 per kilogram, yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat sekitar 5 persen. Di pasar tersebut, masyarakat cenderung memilih kambing yang harganya lebih bersahabat dibandingkan sapi yang harganya merangkak naik hingga Rp23 juta-Rp24 juta per ekor .

“Warga saat ini lebih memilih untuk patungan membeli sapi. Ini membuat permintaan terhadap kambing menurun drastis karena daya beli masyarakat yang terbagi,” ungkap Sulistiono, peternak asal Lamongan, yang justru melihat fenomena lain di mana sistem patungan sapi menjadi pilihan favorit karena dianggap lebih ekonomis dibanding membeli kambing secara individu .

Komitmen Ibadah Tetap Tinggi

Meskipun terjadi pelemahan daya beli, semangat masyarakat untuk tetap berkurban justru menunjukkan angka yang mengejutkan. Sebuah riset terbaru dari ThinkLeap Indonesia yang melibatkan 200 responden dari 23 provinsi menemukan bahwa 53 persen responden tetap berkomitmen berkurban, sementara 37,5 persen lainnya tetap berkurban dengan menyesuaikan anggaran yang dimiliki .

Direktur Eksekutif ThinkLeap Indonesia, Teguh Imami, menilai bahwa hasil ini menunjukkan kurban masih dipandang sebagai ibadah prioritas sekaligus bentuk solidaritas sosial di tengah situasi ekonomi yang sulit.

“Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat mungkin menahan konsumsi lain, tetapi tidak untuk berbagi. Kurban bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga bentuk kepedulian sosial kepada sesama,” ujarnya .

Peran Korporasi Tetap Kuat

Di tengah lesunya permintaan ritel, perputaran ekonomi kurban dari sektor korporasi justru tetap kencang. Perusahaan-perusahaan besar tetap aktif menyalurkan hewan kurban sebagai bagian dari kontribusi sosial di momen Iduladha. Hal ini menjadi salah satu penyangga yang menjaga nilai ekonomi kurban tetap berada di kisaran triliunan rupiah meski daya beli individu tertekan .

Tinggalkan komentar

Exit mobile version