Rupiah “Babak Belur”, Wow… Pecah Rekor Terendah Sepanjang Masa! – Level psikologis baru pun terbentuk. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) resmi menembus level Rp17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 23 April 2026 .
Penurunan ini mencatatkan rekor terlemah dalam sejarah nilai tukar rupiah terhadap greenback, sekaligus memperpanjang tren pelemahan yang sudah berlangsung sejak awal tahun.
Baca Juga: Belanja Kartu Kredit Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3% di Kuartal I/2026
Rupiah Tembus Level Psikologis Baru
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh posisi tersebut pada perdagangan pagi hari . Pelemahan ini juga menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk kedua di Asia sepanjang tahun 2026 .
Biang Kerok: Badai Sempurna Global & Domestik
Pelemahan ini bukan hanya karena satu faktor, melainkan kombinasi sempurna dari tekanan eksternal dan kerapuhan internal.
1. Konflik Iran-AS & Harga Minyak Melambung
Ketidakpastian geopolitik pasca gagalnya perundingan antara AS dan Iran menjadi pemicu utama pelarian modal ke aset aman (dolar AS) . Di tengah eskalasi ini, harga minyak mentah dunia kembali bertahan di atas USD100 per barel, memperparah defisit transaksi berjalan Indonesia sebagai negara net importir energi .
2. Kekhawatiran Fiskal & Kredibilitas APBN
Di dalam negeri, investor mulai meragukan kesehatan fiskal Indonesia. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran membengkaknya subsidi energi serta besarnya utang jatuh tempo yang membebani APBN .
BI Turun Gunung: Triple Intervention
Menghadapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) telah meningkatkan intensitas intervensi untuk menstabilkan nilai tukar.
“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat struktur suku bunga instrumen pro-market,” tegas Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti .
Secara teknis, BI melakukan strategi triple intervention, yaitu intervensi di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder .
Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo masih optimistis. Ia menilai secara fundamental nilai tukar rupiah saat ini undervalued (terlalu murah) dan akan cenderung menguat kembali di dukung oleh fundamental ekonomi domestik yang solid .
