UPH Soroti Peran Keluarga dalam Pembangunan SDM Indonesia

UPH Soroti Peran Keluarga dalam Pembangunan SDM Indonesia – Tangerang – Universitas Pelita Harapan (UPH) menyoroti peran penting keluarga sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Lembaga pendidikan ini menilai bahwa pembentukan karakter dan kualitas SDM harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Baca Juga: Danantara Genap Setahun, Telkom Dukung Pendidikan Generasi Muda

Wakil Rektor Bidang Akademik UPH, Dr. Hendrikus, menegaskan bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap individu. Nilai-nilai, etika, dan moral yang tertanam sejak dini akan membentuk kualitas SDM di masa depan, jauh sebelum seseorang mengenyam pendidikan formal.

“Keluarga tidak bisa digantikan oleh institusi manapun. Teknologi canggih sekalipun tidak akan mampu menggantikan peran orang tua dalam menanamkan integritas, empati, dan ketahanan mental pada anak,” ujarnya dalam konferensi pers di Kampus UPH, Karawaci, Kamis (23/4/2026).

Krisis Peran Keluarga di Era Digital

UPH mengidentifikasi adanya krisis peran keluarga dalam pembangunan karakter generasi muda. Era digital menyebabkan banyak orang tua melimpahkan tanggung jawab pendidikan karakter kepada pihak lain, seperti sekolah atau platform digital.

Penelitian internal UPH menunjukkan bahwa 67 persen anak di Jabodetabek menghabiskan lebih banyak waktu dengan gawai dibandingkan berinteraksi langsung dengan orang tua. Angka ini meningkat 15 persen dari tiga tahun sebelumnya.

Dr. Lili Tjahjadi, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi UPH, menjelaskan bahwa kurangnya interaksi berkualitas dalam keluarga berdampak serius pada perkembangan emosi dan sosial anak.

“Anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dan bimbingan orang tua cenderung memiliki tingkat empati yang rendah serta kesulitan mengelola stres. Ini bukan hanya masalah akademik, tetapi masalah kualitas SDM jangka panjang,” jelasnya.

Konsep Humanis-Teknologi

UPH mengusulkan konsep pendidikan berbasis keluarga dengan pendekatan “Humanis-Teknologi”. Konsep ini menyeimbangkan kemajuan teknologi digital dengan pendampingan orang tua yang hangat dan konsisten.

Keluarga harus menjadi filter utama bagi anak dalam mengakses informasi digital. Orang tua juga harus terlibat aktif dalam proses belajar anak. Selain itu, komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak menjadi prioritas utama. Membangun rutinitas kebersamaan tanpa gawai, seperti makan malam bersama atau bercerita sebelum tidur, juga sangat penting.

Kolaborasi dengan Pemerintah

UPH berkomitmen untuk menjalin kolaborasi dengan pemerintah dalam mengkampanyekan pentingnya pendidikan berbasis keluarga. Melalui program “Parenting Center”, UPH memberikan pelatihan gratis kepada orang tua di berbagai daerah.

Program ini mencakup pelatihan pengasuhan anak di era digital, pendampingan kesehatan mental keluarga, hingga bimbingan karir bagi anak sejak usia dini.

Rektor UPH, Dr. (HC) Jonathan L. Parapak, M.Eng., Ph.D., menegaskan bahwa universitas tidak hanya bertanggung jawab mencetak lulusan berkompetensi tinggi. UPH juga ikut serta dalam membangun ekosistem keluarga yang sehat.

“Kami percaya bahwa mahasiswa yang hebat lahir dari keluarga yang hebat. Jika kita ingin Indonesia Emas 2045 terwujud, perkuatlah pondasi pertama bangsa, yaitu keluarga,” pungkasnya.

Dengan sinergi antara universitas, pemerintah, dan masyarakat, UPH optimis dapat menciptakan ekosistem pendidikan holistik yang dimulai dari rumah. Keluarga yang kuat akan menghasilkan SDM unggul dan berkarakter, yang mampu membawa Indonesia bersaing di kancah global.

Tinggalkan komentar

Exit mobile version