Penjelasan BI soal Rupiah Jatuh ke Atas Level Rp17 Ribu

Penjelasan BI soal Rupiah Jatuh ke Atas Level Rp17 Ribu – Bank Indonesia (BI) memberikan penjelasan resmi terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level psikologis di atas Rp17.000 per dolar AS. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti membeberkan tiga faktor utama yang menjadi biang kerok anjloknya mata uang Garuda.

Baca Juga: Serapan Pupuk Bersubsidi di Sumatra Tembus 683 Ribu Ton

Tiga Faktor Utama Pelemahan Rupiah

Destry menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada tiga faktor utama yang saling berkontribusi terhadap tekanan nilai tukar ini.

Pertama, meningkatnya ketidakpastian global yang mempengaruhi hampir seluruh mata uang di kawasan Asia. Kondisi ini membuat para investor cenderung melepas aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kedua, dampak konflik geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Ketegangan di kawasan tersebut mendorong penguatan nilai dolar AS sebagai aset safe haven. Akibatnya, hampir semua mata uang dunia melemah terhadap dolar, termasuk rupiah.

Ketiga, tingginya permintaan dolar AS di dalam negeri akibat musim pembayaran dividen perusahaan. Faktor musiman ini menambah tekanan pada rupiah di tengah kondisi global yang sudah tidak stabil.

Langkah BI: Intervensi di Tiga Pasar

Menghadapi tekanan ini, BI tidak tinggal diam. Bank sentral meningkatkan intensitas intervensi dengan melakukan stabilisasi di tiga pasar secara simultan.

Pertama, BI melakukan intervensi di pasar offshore melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF). Kedua, bank sentral juga hadir di pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Ketiga, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Langkah triple intervention ini bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global.

Cadangan Devisa Masih Kuat

Meskipun rupiah tertekan, BI memastikan posisi cadangan devisa Indonesia tetap aman. Per akhir Maret 2026, cadangan devisa berada di level 148,2 miliar dolar AS.

Meski turun sekitar 3,7 miliar dolar AS dari bulan sebelumnya, jumlah ini masih cukup untuk mendukung upaya stabilisasi rupiah. Penurunan cadangan devisa disebabkan oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar yang diambil BI.

Rupiah Disebut Undervalued

Gubernur BI Perry Warjiyo justru menilai bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued. Dengan kata lain, rupiah seharusnya bergerak lebih kuat jika dilihat dari kondisi fundamental ekonomi domestik yang solid.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal, seperti sentimen global dan konflik geopolitik, bukan karena melemahnya fundamental ekonomi Indonesia.

Pergerakan Masih Sejalan dengan Kawasan

Destry menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan tren mata uang regional lainnya. Secara year to date, rupiah tercatat melemah 3,54 persen sejak awal tahun. Angka ini masih dalam koridor yang wajar jika dibandingkan dengan mata uang negara tetangga.

BI pun memastikan akan terus hadir di pasar dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

Tinggalkan komentar

Exit mobile version