Purbaya Jawab Isu Masyarakat Makin Susah di Balik Data Pertumbuhan BPS – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara merespons kesenjangan antara data makroekonomi yang positif dengan persepsi masyarakat yang masih merasakan kesulitan ekonomi. Dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026), Purbaya menilai bahwa persepsi negatif tersebut banyak dipengaruhi oleh analisis ekonom di media sosial.
Baca Juga: Purbaya Jawab Isu Masyarakat Makin Susah di Balik Data Pertumbuhan BPS
Data BPS vs Realita di Lapangan
Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 13 tahun terakhir. Tingkat pengangguran terbuka juga turun menjadi 4,68 persen, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun di sisi lain, Ketua CT Corp Chairul Tanjung yang menjadi moderator dalam acara tersebut mengakui adanya keresahan masyarakat. “Yang dirasakan oleh masyarakat itu inflasi rendah tapi harga naik, cari kerja lebih sulit, PHK masih terjadi,” tuturnya.
Menanggapi hal ini, Purbaya mengaku telah melakukan investigasi terhadap data yang disampaikan BPS. Ia justru menemukan sejumlah indikator yang menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga.
Penjualan Ritel Meningkat
Purbaya memaparkan bukti peningkatan konsumsi masyarakat dalam beberapa bulan terakhir. Penjualan mobil meningkat 55 persen secara tahunan pada April 2026, sementara penjualan motor naik 28,1 persen.
“Konsumsi masyarakat trennya masih naik kencang. Artinya kelihatannya daya beli masyarakat nggak sejelek yang dikatakan oleh ekonom-ekonom di TikTok,” ujar Purbaya tegas.
Penjualan semen, listrik, dan bahan bakar minyak juga tercatat mengalami peningkatan signifikan. Lonjakan penjualan ini terjadi seiring dengan normalnya aktivitas masyarakat pasca-libur Lebaran.
Penerimaan PPN dan PPnBM Meningkat 40 Persen
Dari sisi penerimaan negara, Purbaya juga membeberkan data pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang meningkat hingga 40,2 persen atau sekitar Rp221,2 triliun.
“Peningkatan PPN dan PPnBM ini mencerminkan masyarakat masih memiliki daya beli. Ini semua mematahkan tuduhan bahwa ekonomi kita melambat,” tegas Menteri Keuangan tersebut.
Penerimaan pajak secara total juga tumbuh 16,1 persen, didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi dan implementasi coretax yang semakin baik.
Optimisme Kondisi Membaik dalam 6 Bulan
Purbaya optimistis kondisi masyarakat akan terus membaik dalam waktu dekat. Ia memprediksi jumlah warga yang mengalami kesulitan ekonomi akan berkurang dalam enam bulan ke depan.
Optimisme ini didasari oleh fundamental ekonomi yang kuat, termasuk cadangan devisa yang memadai dan realisasi investasi yang terus meningkat. Purbaya juga memastikan bahwa Indonesia tidak akan mengulangi krisis ekonomi seperti tahun 1998 karena kondisi fundamental saat ini jauh lebih baik.
Kritik terhadap Analisis TikTok
Menteri Keuangan itu menyayangkan maraknya analisis pesimistis di media sosial yang dinilainya tidak berdasar pada data yang akurat. Ia mengaku bingung dengan anggapan negatif yang terus berkembang di masyarakat.
“Setelah saya analisa lebih lanjut, ternyata itu kebanyakan adalah analisa ekonom di TikTok,” ujar Purbaya sambil menyindir.
Ia bahkan sempat melontarkan pertanyaan retoris kepada para pengkritik yang terus-menerus meributkan kondisi ekonomi, baik saat data tumbuh cepat maupun lambat. “Jadi kalau angka jelek ribut, angka tinggi ribut. Jadi teman-teman ekonom tuh maunya apa?” ucapnya dalam kesempatan terpisah di Jakarta.
Kontribusi Belanja Pemerintah
Purbaya juga menjawab kritik yang menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi 5,61 persen hanya didorong oleh belanja pemerintah. Berdasarkan data BPS, belanja pemerintah memang tumbuh 21,8 persen dan menyumbang 1,26 persen dari total pertumbuhan.
Namun, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi lebih besar, yaitu sebesar 2,94 persen poin, sementara investasi menyumbang 1,79 persen poin. “Di sini kelihatan sekali bahwa belanja masyarakat kita masih kuat,” jelas Purbaya.
Belanja Anggaran Dihadirkan Lebih Awal
Terkait lonjakan belanja pemerintah di awal tahun, Purbaya menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto memastikan seluruh belanja anggaran dibelanjakan secara merata sepanjang tahun. Kebijakan ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang cenderung menumpuk di akhir periode.
“Yang tadinya menumpuk di akhir tahun dimajukan ke depan sehingga di awal tahun tumbuh 21,8 persen,” kata Purbaya.
Strategi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih awal oleh masyarakat.
Kesimpulan
Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa persepsi masyarakat yang semakin susah di tengah data pertumbuhan ekonomi yang positif tidak sepenuhnya akurat. Berdasarkan indikator penjualan ritel, penerimaan pajak, dan konsumsi rumah tangga, daya beli masyarakat dinilai masih cukup kuat.
Meskipun demikian, Menteri Keuangan mengakui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, termasuk perluasan lapangan kerja dan pemerataan pembangunan. Namun secara fundamental, ia optimis kondisi ekonomi Indonesia sedang berada di jalur yang benar menuju pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
